SEDEKAH DESO



Tradisi 'sedekah deso' merupakan salah satu bentuk peribadatan tradisional masyarakat desa Banjarwaru yang sudah berjalan dari generasi ke generasi. Ritual sedekah deso ini dilakukan oleh seluruh masyarakat desa setiap satu tahun sekali. Penetapan waktu pelaksanaan adalah berdasarkan pertemuan tokoh masyarakat untuk mencari hari baik. Hal ini dimaksudkan, agar masyarakat desa selalu dilimpahi dengan kebaikan dan dijauhkan dari keburukan.


Terdapat serangkaian acara pada pelaksanaan seremoni sedekah deso ini. Acara pertama adalah selamatan, kedua sesajen atau nyekar dan yang terakhir adalah ruwatan atau ngruwat. Acara Selamatan, diawali dengan penabuhan gamelan yang bertanda bahwa acara puncak upacara akan segera dimulai. Kemudian disusul dengan pemukulan kentongan oleh masing-masing kepala dusun agar seluruh warganya dapat segera berkumpul di Balai Desa untuk melaksanakan selamatan bersama. Dalam acara selamatan terdapat empat kegiatan inti yaitu sambutan, tahlilan, doa dan yang terakhir adalah tumpengan.


Tumpeng pada acara selametan dibuat oleh masing-masing warga yang kemudian dibawa ke tempat acara untuk saling ditukarkan dengan warga yang lain. Kemudian pada akhirnya akan dimakan bersama-sama. Tujuan dari seluruh rangkaian kegiatan selamatan adalah untuk mendoakan orang-orang yang telah meninggal agar diampuni dosanya dan diberikan tempat terbaik disisiNya. Acara kedua adalah sesajen atau nyekar. Yang diperlukan pada acara kedua ini adalah kembang telon, kembang ber, minyak wangi, dan kemenyan. Masing-masing dari sajen itu memiliki arti tersendiri. Acara ini diawali dengan penabuhan gamelan. Kemudian sesepuh desa, membawa sesajen tersebut ke tempat sesaji yaitu makam Embah Bedugul. Yaitu makam yang dikeramatkan oleh warga desa Banjarwaru karena sejarahnya. Intisari dari acara sesajen atau nyekar adalah untuk menjaga keselamatan desa dari gangguan roh-roh jahat serta mendoakan para leluhur yang telah berjasa untuk desa agar mendapat perlindungan dari Allah SWT.


Acara terakhir adalah ruwatan atau ngruwat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “ruwatan adalah sebuah upacara yang bertujuan untuk membebaskan orang dari nasib buruk yang akan menimpa”. Beberapa bahan yang perlu disiapakan untuk sesajen pada acara ini adalah bahan makanan dan minuman (beras, jagung, badeg, tetes), bumbu dapur (krambil, gula, garam, cabai), makanan dan lauknya (berbagai macam nasi tumpeng, nasi golong), kue-kue (rujak, gecok, serabi, bikang), bahan pakaian (jarik, kemben), buah-buahan dan tanaman (pisang, tebu, padi, janur), binatang (ayam putih dan hitam, merpati putih dan hitam masing-masing jantan dan betina), peralatan rumah tangga (tikar,bantal, sapu lidi) peralatan pertanian (pacul, arit, topi pandan).


Prosesi upacara ngruwat dimulai setelah acara nyekar berakhir. Peserta dari acara ini adalah para undangan, perangkat desa dan seluruh warga desa. Dalam acara ini yang diruwat adalah seluruh warga desa yang diwakili oleh pamong desa, rojo koyo, perwakilan dari warga. Upacara ini diawali dengan pembacaan doa oleh dalang, kemudian dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit. Setelah itu, pagelaran wayang dihentikan untuk beberapa saat dan dalang mempersilahkan peserta ruwatan yang telah dipilih sebagai perwakilan warga desa untuk dipotong sedikit rambutnya. Setelah itu pertunjukan wayang kulit dilanjutkan.


Setelah pertunjukan wayang selesai, para peserta ruwatan menyerahkan pakaian yang mereka kenakan saat upacara berlangsung yaitu, berupa kain putih. Setiap peserta ruwatan kemudian melepaskan simpul yang berupa ketupat dan diakhiri dengan mandi air bunga setaman. Hal ini dapat diartikan sebagai pelepasan dari derita yang telah dirasakan, dan terlepaslah desa Banjarwaru dari keburukan.


Seluruh rangkain tersebut adalah sedekah deso dalam versi lama yang berfokus pada persembahan. Tradisi tidak hanya berisi rangkain upacara, namun ada harapan baik didalamnya. Namun Pada saat ini, sedekah deso dimodifikasi sehingga lebih difokuskan ke kegiatan-kegiatan relijius seperti pengajian dan kenduri saja. Sedekah Desa saat ini juga bisa diisi dengan kegiatan edukatif dengan tidak meninggalkan makna dari sedekah desa.

Kita sebagai generasi muda boleh melanjutkan dengan tatanan seperti dulu dengan tujuan melestarikan budaya, atau bila tidak ingin ribet dalam kegiatan, kita hanya mengenangnya sebagai cerita adat yang tergerus oleh jaman dan teknologi yang semakin maju.






sumber : skripsi Ibu Mistimah IKIP Malang tahun 1998

Posting Komentar

0 Komentar